Connect with us

Hi, what are you looking for?

Narasi

Tentang Radio yang Terus Bertahan dengan Caranya Sendiri

Radio lahir di masa penjajahan. Dan kelahirannya patut dirayakan sebagai Hari Radio Nasional.

ilustrasi-tumpukan-radio
Ilustrasi radio tua. (Foto Getty Images lewat Canva)

the Monkey Times – Beberapa hari terakhir kita dikejutkan kabar dari sebuah stasiun TV yang mengajukan sebuah Rancangan Undang-Undang yang kontroversial. Sejumlah pihak menilai undang-undang tersebut akan membatasi kebebasan berekspresi.

Pengajuan rancangan undang-undang tersebut secara tak langsung menjadi pertanda keengganan TV swasta menerima persaingan dengan media digital.

Iklan

Entah mengapa polemik ini justru bikin saya teringat akan radio. Sebuah media konvensional yang sering terancam akan mati, namun saat ini eksistensinya tetap ada. Padahal, sekarang saingan mereka tak hanya televisi semata.

Tetapi, juga siniar alias podcast yang realtif lebih mudah diakses. Tinimbang membuat rancangan undang-undang yang bisa bikin pesaing mereka rubuh, radio memilih beradaptasi; bertahan dengan caranya sendiri.

Bermula dari Marconi

Bila membahas soal sejarah radio, nama Guglielmo Marconi pastilah yang paling mencuat. Pria asal Italia ini sukses mematenkan temuannya berupa telegraf nirkabel dua sirkuit pada 1896. Sebuah alat yang menjadi milestone bagi tercipatanya Radio.

Penemuan itu terus ia kembangkan, hingga menghasilkan telegraf nirkabel dengan jangkauan 12 mil. Pada 1899, Marconi menggunakan telegraf tersebut untuk menjalin kebutuhan komunikasi antara Inggris dan Perancis. Komunikasi itu terjalin setelah Marconi berhasil memadukan telegraf dengan osilator tesla.

Setelah hal itu berhasil dilakukan Marconi, munculah sejumlah ilmuwan yang berhasil menciptakan berbagai komponen radio. Mulai dari John Ambrose Fleming dan Dr. Lee de Forrest yang masing-masing berhasil menciptakan tabung audio, hingga Edwin Howard Armstrong berhasil menciptakan radio amplifier.

Khusus untuk nama terakhir, dia juga berhasil menciptakan modulasi frekuensi (FM) yang mampu menghasilkan suara yang jernih. Sayangnya, hasil penemuan itu tidak didukung masyarakat, lantaran pergolakan ekonomi yang saat itu tengah melanda.

Sempat mendirikan stasiun radio FM pertama di era 1940, Armstrong pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, lantaran beban berat yang dia emban selama mengembangkan sistem FM ciptaannya. Dua dekade setelah kematian Armstrong, sistem FM mulai diadopsi oleh radio seluruh dunia, serta menjadi bagian penting radio hingga saat ini.

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, sejarah radio tak lepas dari sejarah penjajahan itu sendiri. Hal ini wajar lantaran radio lahir di masa penjajahan, utamanya penjajahan Jepang. Di masa penjajahan Jepang, radio memang sudah dipakai sebagai alat komunikasi. Adapun radio terbesar di masa itu adalah Radio Hoso Kyoku.

Seusai Indonesia lepas dari penjajahan Jepang, Hoso Kyoku pun resmi dihentikan. Masyarakat pun jadi buta informasi dan tak tahu apa yang terjadi di dunia luar. Padahal, saat itu banyak sekali informasi penting yang harus disampaikan masyarakat. Salah satunya adalah rencana kerajaan Belanda yang ingin mendirikan Netherlands Indie Civil Administration (NICA) di Indonesia.

Menanggapi situasi itu, para mantan penyiar yang pernah aktif di Hoso Kyoku pun mengadakan pertemuan bersama pihak pemerintah. Salah satu perwakilan mantan penyiar saat itu adalah Abdulrahman Saleh yang menjadi ketua delegasi para mantan penyiar.

Pertemuan yang berlangsung pada 11 Sepetember 1945 itu menghasilkan beberapa rencana. Salah satunya adalah mendirikan radio yang bisa dipakai pemerintah untuk menyampaikan informasi pada masyarakat. Radio dipilih lantaran mampu menyampaikan informasi secara jernih dan tak terputus. Bahkan, saat perang sekalipun.

Untuk merealisasikan rencana itu, para delegasi meminta pmerintah agar Jepang menyerahkan Hoso Kyoku kepada Indonesia. Namun, pemerintah tak sanggup menyanggupi lantaran semua peralatan di Hoso Kyoku sudah masuk ke dalam inventaris sekutu.

Mendengar hal itu, para delegasi pun memutuskan untuk tetap melanjutkan rencana mereka, meski harus menerima risiko peperangan. Di akhir pertemuan, para delegasi juga memutuskan mendirikan Persatuan Radio Republik Indonesia, melakukan siaran ke 8 daerah di Jawa, serta mempersembahkan Radio Republik Indonesia (RRI) ke pihak pemerintah.

Sepulang dari pertemuan dengan pemerintah, beberapa wakil delegasi pun melakukan rapat di rumah Adang Kadarusman. Rapat tersebut menghasilkan RRI yang nantinya dipakai pemerintah sebagai alat komunikasi dengan rakyat. Pembentukan RRI itulah kelak diperingati sebagai Hari Radio Nasional atau Hari RRI.

Strategi Bertahan ala Radio

Saingan radio di masa kini tak hanya TV semata. Internet, media sosial, dan podcast adalah kompetitor lainnya. Perlu strategi khusus bagi radio untuk bisa bersaing dengan mereka. Banyak cara yang bisa ditempuh. Memasuki ranah streaming adalah salah satunya.

Banyak keuntungan yang didapat radio saat memasuki ranah streaming. Satu di antaranya adalah jangkauannya yang lebih luas. Layanan streaming bikin radio di daerah Bandung bisa didengarkan oleh orang luar Bandung. Keuntungan ini tak hanya dirasakan oleh radio berbasis FM, tetapi juga yang berbasis AM.

Cara unik dilakukan oleh radio R2B. Radio asal Rembang ini mengerahkan semua penyiarnya untuk turun ke lapangan. Mereka disuruh untuk mempromosikan R2B sekaligus mempromosikan produk dari para pengiklan. Ikhtiar tersebut dilakukan di tiap sudut kota. Entah di jalan, pasar, maupun pertokoan.

Cara tersebut rupanya berdampak positif. Kini, radio yang berada di bawah naungan Thomson Radio Network itu sudah punya kerajaan radio sendiri. Tercatat, ada 60 radio di bawah R2B yang tersebar di berbagai daerah. Mulai dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan, hingga Bali. Agar eksistensinya tetap terjaga, Thomson Radio Network pun membuka bisnis obat dan jamu.

“Daripada promosi dan jual produk orang lain, mending kita jual saja produk sendiri. Jadi, kami cari produknya, lalu radio yang akan menjual sekaligus mendistribusikannya,” ujar Onny Abi Wahono, salah satu pendiri R2B di Lembang.

Punya Ciri Khas Sendiri

Di salah satu video bikinan Froyonion, Gofar Hilman mengungkap salah satu kelebihan radio. Penyiar Hard Rock FM dan salah satu pemilik Lawless Jakarta ini menyatakan kalau element of surprise adalah hal yang khas dimiliki oleh radio.

“Radio itu, lu nggak bisa nebak penyiarnya bakal ngomong apa di-cut berikutnya… Ini element of surprise, ini yang nggak ada di media mana pun,” ujarnya.

Radio juga punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh media umumnya. Hal itu diungkapkan oleh penyiar sekaligus presenter ternama, Bayu Oktara.

“Yang membuat radio bisa bertahan, karena radio bisa didengarkan sambil melakukan kegiatan lain. Seperti sambil menyetir mobil, sambil belajar, dan sebagainya. Itu yang media lainnya nggak punya,” ujar penyiar yang pernah bermain di Sitkom OB sebagai Gusti itu.

Ciri khas tersendiri yang dimiliki radio diyakini bakal bikin radio lama bertahan. Walau kini radio punya saingan baru bernama podcast. Menurut profesor bidang broadcasting, Diane Kemp, radio dan podcast justru akan tumbuh bersama.

Podcast sudah ada sejak beberapa tahun terakhir, serta amat populer di kalangan generasi Z. Radio bisa memberi momen bersama dan interaktivitas dengan para pendengarnya. Hal yang tidak bisa diberikan podcast. Sementara podcast bisa memberi nilai tambah pada radio, alih-alih sebagai pengganti untuk radio itu sendiri,” ujar profesor Birmingham City University seperti dikutip Tirto.id.

Iklan

Artikel Menarik Lainnya

Narasi

Tapi bukan berarti smartwatch tidak ada gunanya sama sekali.

Narasi

Sama seperti membuat video, menulis pun punya tantangan tersendiri. Dua-duanya sama-sama mengasyikkan, bila dikelola dengan baik.

Narasi

Berbekal ilmunya, Gus Baha menurut saya adalah sosok intelektual organik di bidang agama. Mengakar, sekaligus jauh dari menara gading.

Narasi

Apakah kegiatan blogging masih relevan hari ini? Memangnya tidak ada kegiatan lain.

Iklan