Aku Menulis untuk diriku di Masa Kecil

Aku menulis surat untuk diriku sendiri di masa kecil. Mungkin aneh, tapi setidaknya aku ingin menyapa diriku di masa lalu yang berbeda dengan diriku sekarang.


masa kecil

Ilustrasi masa kecil. (Foto: Getty Images lewat Canva)


Oleh: Pak Pos

Diterbitkan:

the Monkey Times – Tentang kehidupan menjadi dewasa, yang kuceritakan kepada masa kecilku. Kata orang, menjadi dewasa adalah awal mulaku untuk mengenal dunia lebih luas.

Menjelajahi berbagai pengalaman dan petualangan seru dengan bebas, tanpa harus merengek dulu pada ibu. Dan aku, di masa depan, menulis surat ini untuk diriku sendiri di masa kecil.

Atau aku bisa dengan bebas menari dan menyanyi di panggung besar seorang diri, sesekali melukis bangunan tua di sebuah kedai kopi tanpa perlu ditemani ayah. Kata orang, menjadi dewasa itu keren. 

Saat aku masih terjebak di tubuh kecilmu, aku akan mulai marah saat mendapati ayah melarangku untuk pergi bermain dengan bebas bersama teman-temanku.

Atau merasa menyebalkan ketika ibu menyuruhku untuk lekas tidur sebelum aku selesai menonton serial kartun favoritku hanya karena jam sudah menunjukkan pukul delapan.

Huh, rasanya aku hanya ingin menjadi cepat dewasa saja agar bisa menikmati dunia semauku.

Hal paling menyebalkan selanjutnya yang juga terjadi di masa kecil adalah ketika semua orang dewasa mendadak menjadi tuli, ketika aku dengan lantangnya berteriak menyampaikan keinginanku tapi seakan-akan tidak pernah didengar.

Ketika aku dengan merengek ingin melakukan hal yang aku suka, namun tidak pernah mendapat izin. Ketika menjadi dewasa, bukankah aku memiliki hak yang sama untuk berpura-pura tidak mendengar juga?

Meski begitu, tapi masa kecil tetap menyenangkan. Aku bisa dengan bebas bermain sepeda di depan kompleks bersama teman-teman sampai akhirnya harus pulang karena disuruh ibu mengaji.

Atau aku juga senang ketika pergi bersama keluarga mengunjungi kebun binatang, sambil bernyanyi sepanjang jalan dan menikmati bekal masakan ibu yang sering keasinan.

Aku juga suka ketika sore-sore menonton TV bersama di ruang keluarga.

Sepuluh tahun kemudian, usiaku menginjak angka dua puluhan. Sungguh menyenangkan berada di usia ini, aku mulai bebas memilih pakaian apa yang ingin kupakai.

Aku bisa bermain dengan teman-teman dari pagi hingga sore, menikmati jalanan atau sekedar menonton berbagai macam konser musik.

Mulai mencoba menggeluti hal-hal yang kusuka dan ingin  kulakukan sejak aku kecil. Usia dua puluh sungguh menyenangkan, menjadi dewasa memang sekeren itu.

Setelah tidak lagi menjadi anak kecil yang selalu diawasi, aku  banyak menemukan teman-teman baru yang memiliki pikiran dan dunia sama sepertiku.

Baca Juga:  Surat untuk Teman Masa Kecilku yang hanya Terlihat Olehku

Kami bisa menjalankan suatu project besar bersama dan menghabiskan sepanjang hari untuk mengurus suatu acara kepanitiaan.

Kemudian dapat dengan bebas pulang diatas jam 8 malam, lalu pergi masuk ke kamar dan tidur karena kelelahan.

Baca Juga: Tentang Bimbingan yang kau Berikan, ibunda Dosen Sayang

Aku dapat dengan bebas menentukan dunia mana yang ingin kumasuki. Ya, kini aku bebas berjalan dan menggali potensi diri untuk mewujudkan cita-citamu. Cita-cita yang selalu kau rapal dalam doa setiap menjelang tidur agar terwujud.

Terimakasih selalu terus berdoa dan percaya terhadap mimpi-mimpimu. Tenang, saja aku mendapatkan banyak teman yang bisa membantuku untuk memasuki dunia yang luas, agar mimpi kita dapat terwujud.

Tumbuh menjadi seseorang yang semakin besar merubahku menjadi seseorang yang sangat ambisius, aku rasa semua hal bisa dilakukan seorang diri. Selain itu, aku juga menjadi seorang yang egois.

Tidak lagi memikirkan doa dan harapan ayah dan ibu, yang menjadi sangat penting hanyalah kehidupanku beserta isi didalamnya. Teman-temanku, pekerjaanku, segala harapanku, semua keinginanku, doa-doaku.

Karena ambisius dan egois, aku di dalam tubuh yang dewasa ini menjadi sering lupa diri. Bukankah terlalu naif ketika aku menganggap segala hal bisa dilakukan seorang diri?

Tapi bertindak sebagai manusia super, seakan-akan bisa melakukan segalanya. Padahal, banyak keputusan salah yang kuambil. Bukankah menjadi dewasa menyenangkan?

Padahal, aku banyak melupakan hal-hal sederhana yang biasa kulakukan karena menyenangkan.

Aku menjadi lupa diri. Menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan sampai akhirnya lupa waktu menyapa ayah-ibu yang terus mendoakan kehidupanku.

Melakukan semua pekerjaan dan bertemu banyak orang baru tapi merasa lebih kesepian. Berkeliling mencari potensi diri, tapi menjadi lupa dengan tujuan awal. Bekerja hingga kelelahan tapi merasakan kehidupan yang sangat kosong.

Kalau sudah  begini, aku sadar. Ada jiwa masa kecil yang ada dalam diriku yang tetap perlu dihibur. Yang merindukan kegiatan bermanja dengan ayah-ibu.

Baca Juga: Surat dari Ibu untuk Anak yang Tegar Hatinya

Yang juga ingin ikut ibu pergi ke pasar di kota, lalu tidak ingin pula dan merengek ketika tidak dibelikan jajanan.

Atau ikut ayah pergi ke tempat untuk donor darah, dan pulangnya diajak mampir menikmati semangkuk es campur langganan . Ada jiwa masa kecilku yang masih suka merengek, kelelahan.

Menjadi orang dewasa memang terlihat keren dan menyenangkan. Tapi, ternyata tidak pernah semudah itu.

Baca Juga:  Aku mengagumimu, juga Merindukanmu

Aku merasa bangga ketika berhasil meraih sesuatu, ataupun melakukan hal yang tidak bisa dilakukan ketika kecil. Tapi, juga merasa sedih karena kehilangan banyak waktu dan tidak lagi bisa merengek kepada ayah ibu disaat aku mulai kelelahan, dan merasa kosong.

Halo diriku di masa kecil, tapi kamu tenang saja. Aku tetap akan merapal doa yang sama, untuk kehidupan kita di masa mendatang.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: curahan hati, kabar belakang

Atau baca artikel lain yang ditulis: Pak Pos

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru