Kami mungkin menerima komisi untuk setiap pembelian yang dilakukan lewat tautan afiliasi yang termuat di beberapa jenis konten yang diterbitkan pada topik/kategori tertentu. Pelajari selengkapnya.

Topik: Surat

Aku mengagumimu, juga Merindukanmu

Tidak ada yang membuat seseorang menyimpan rindu lebih dalam, kecuali kepada orang baik yang memberikan secuil kenangan yang tak pernah lekang oleh waktu.


surat untuk teman yang kurindukan

Foto: Getty Images/Canva

Oleh: Pak Pos
Diterbitkan:

the Monkey Times – Tidak ada yang membuat seseorang menyimpan rindu lebih dalam, kecuali kepada orang orang yang baik. Maka dimanapun tempatnya, orang baik akan selalu memberikan secuil kenangan yang tak pernah lekang oleh waktu.

Iklan

Surat ini tertuju untuk seseorang yang kukagumi, yang akhirnya ditakdirkan menjadi sahabat. Terima kasih karena telah menyempatkan diri untuk menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Kamu pernah menanyakan kepadaku, tentang kesan pertama saat kita bertemu. Jujur saja, kala itu aku kiri dan juga kagum. Kamu termasuk orang yang sangat percaya diri dan pekerja keras. 

Iklan

Tak hanya itu, kamu adalah pribadi yang terbuka sehingga memiliki banyak teman. Alasan itulah yang membuatku semakin penasaran denganmu. 

Mungkin tidak kamu ketahui, secara sembunyi sembunyi aku mulai mencari informasi tentang kehidupanmu.

Iklan

Bisa dibilang sebagai saingan sebenarnya, karena kamu adalah orang yang pandai dalam bidang akademis. Hampir di setiap mata kuliah, kamu tidak pernah absen untuk selalu aktif. 

Kamu bahkan sering bertanya kepada dosen baru yang mengisi materi di kelas kita. Menariknya lagi, saat presentasi kamu bisa memberikan penjelasan yang runtut dan mudah dipahami. 

Dilihat dari latar belakangmu, aku melihat kita memiliki kehidupan yang tak jauh berbeda.

Banyak teman lain yang pasti akan menyebut namamu ketika mereka menanyakan dari mana aku berasal. Ya, ternyata kita datang dari daerah yang sama. 

Namun, sifatku yang pendiam dan cukup malu sehingga kesulitan untuk mengajakmu berteman. Entah kenapa lambat laun seakan Tuhan sedang mengamati apa yang kuinginkan. 

Aku memang ingin berkawan denganmu, namun tak berani untuk mengatakannya.

Dalam suatu kesempatan, kita ternyata mengikuti pelatihan yang sama. Di saat itu, kebanyakan dari kita memang memiliki keinginan yang kuat untuk bisa mengikuti lomba karya ilmiah. 

Pelatihan yang diberikan kepada kakak tingkat, membuat kita memiliki harapan baru untuk mencapai mimpi itu. 

Hingga pada suatu hari, kita mulai melakukan percakapan singkat, yang akhirnya berujung pada kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat.

Aku sangat bersyukur, karena memang kamu orang yang baik. Hingga pada saat pemilihan tim, akhirnya kamu memutuskan agar aku bergabung sebagai anggota tim dimana kamu ada di dalamnya. 

Ah, perjuangan itu memang tidak mudah. Apalagi kita ada banyak tim lain yang lebih unggul. Tapi aku sangat menikmati masa masa itu. 

Aku pun menjadi semakin dekat denganmu, hingga kita sering bermain ke kos masing masing. Kamu selalu meminta maaf atas kesalahan yang sebenarnya tidak kamu perbuat.

Padahal justru aku merasa sungkan karena sikapmu itu. Sampai akhirnya, kamu mulai banyak bercerita tentang kehidupanmu. 

Ah, ternyata di balik semangatmu yang tak pernah surut ada banyak beban yang harus kamu tanggung. Mulai waktu itu, aku memahami saat kamu meneteskan air mata. 

Sosok yang aku kenal sangat kuat dan tangguh, bahkan saat berhadapan dengan seorang dosen sekalipun ternyata memiliki masalah hidup yang cukup berat.

Tapi justru karena itulah aku semakin mengagumimu. Kamu selalu berusaha untuk kuat dan pantang menyerah, meskipun banyak hal sebenarnya perlu ditangisi. 

Salah satu hal yang sering membuatmu sedih adalah hubungan orang tua yang tak harmonis. Kamu pernah mengatakan jika dulu orang tuamu hampir berpisah, lantaran ada orang ketiga. 

Akhirnya kamu harus tinggal dengan nenekmu, agar kamu tidak mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi.

Hingga selanjutnya kamu harus bekerja dan tinggal dengan orang lain, agar tetap bisa melanjutkan sekolah sampai SMA. 

Ah, mungkin aku tidak akan sekuat dirimu jika diharuskan menanggung beban itu. Namun, kamu adalah orang yang sangat bijak karena selalu berusaha menolong orang lain, agar mereka tidak merasakan kesulitan yang sama. 

Sungguh mulia sekali apa yang kamu inginkan itu. 

Seiring berjalannya waktu, aku dan kamu mulai jarang bertemu. Lantaran kita seringkali memilih kelas yang berbeda di semester selanjutnya. 

Mengingat kamu memutuskan untuk kuliah sembari bekerja, untuk membantu perekonomian keluarga. Padahal saat itu, jadwal kuliah dan praktikum kita sangat sibuk. Namun, kamu bisa mengatur waktu dengan baik sehingga keduanya bisa berjalan sesuai dengan keinginanmu. Bahkan kamu juga selalu menyelesaikan tugas tepat waktu.

Salah satu yang aku kagumi dimana kamu selalu mendahulukan tugas agar bisa terselesaikan dengan baik. Saat orang lain malas mengerjakannya, justru kamu selalu bersemangat untuk menyelesaikannya. 

Dari dulu, sifat inilah yang ingin aku contoh darimu. Tapi entah mengapa kamu memiliki semangat yang lebih tinggi, dan aku kesulitan untuk mengajarkannya. 

Bahkan kamu juga tidak segan segan mengingatkan agar teman temanmu segera menyelesaikan tugas.

Tak hanya persoalan tentang kampus, kamu juga kerap membantu orang lain yang kesulitan dalam masalah materi. 

Padahal kondisimu saat itu juga tidak jauh berbeda. Berada jauh dari rumah memang mengharuskan kita untuk mandiri. 

Aku masih ingat kamu sering membawa bekal yang akhirnya kamu bagi denganku. Padahal aku tapi, jika jatah bekalmu saat ini tidak banyak. 

Tapi kamu memaksa, dan mengatakan jika berbagi justru bisa mendatangkan kebahagiaan baru.

Semoga kamu selalu bahagia, dan tetap menginspirasi dengan kebaikan yang kamu lakukan.

1637809467 LMqn9WyiH4rRRXbPuXboe1tYL1EqK5ei
Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang