Kami mungkin menerima komisi untuk setiap pembelian yang dilakukan lewat tautan afiliasi yang termuat di beberapa jenis konten yang diterbitkan pada topik/kategori tertentu. Pelajari selengkapnya.

Topik: Film

Ini dia 9 Film Lokal yang Pertama Kali Diproduksi di Indonesia

Film lokal ini akan mengajak kamu melihat potret Indonesia masa lampau.


film pertama Indonesia

Ilustrasi proses produksi film (Foto : Jakubgodja/Canva Pro)

Diterbitkan:

the Monkey Times – Berkat kemajuan teknologi sekarang membuat kita dengan mudah menikmati berbagai film, termasuk film dari Indonesia.

Iklan

Penasaran nggak sih, seperti apa film yang pertama kali diproduksi di negara kita? Nah berdasarkan sejarah, film lokal pertama Indonesia diketahui dirilis pada tahun 1926 dan terus bertambah hingga saat ini.

Berikut kami punya 9 daftar film Indonesia pertama dalam sejarah. Simak yuk!

Iklan

Loetoeng Kasaroeng (1926)

Dunia perfilman Indonesia baru dimulai sejak berdirinya bioskop di Tanah Abang, Batavia pada 5 Desember 1900.

26 tahun kemudian jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, sebuah film bisu berjudul Loetoeng Kasaroeng mulai diproduksi dan ditayangkan di bioskop.

Iklan

Film pertama dari Indonesia ini disutradarai oleh George Krugers, seorang keturunan Jawa-Belanda yang dibantu oleh L Heuveldorp.  

Meskipun disutradarai oleh orang Belanda, seluruh pemain film tersebut adalah orang-orang pribumi.

Loetoeng Kasaroeng sendiri berasal dari cerita rakyat Sunda yang berisi nasehat untuk tidak melihat sesuatu dari luarnya saja.

Eulis Atjih (1927)

Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama. Menceritakan tentang seorang suami yang meninggalkan istri dan anaknya untuk berfoya-foya.

Namun setelah suami jatuh miskin, si isteri, Eulis Atjih masih mau menerima suaminya kembali.

Film Eulis Atjih dirilis setelah film Loetoeng Kasaroeng, menghasilkan keuntungan yang lumayan karena berhasil merebut perhatian di Hindia Belanda meskipun warnanya masih hitam putih dan tanpa suara.

Lily Van Java (1928)

Kesuksesan dua film sebelumnya turut menarik perhatian etnis Tionghoa yang tinggal di Indonesia untuk melakukan hal serupa.

Pada tahun 1928, muncul sebuah film berjudul Lily Van Java yang diproduksi oleh South Sea Film.

Durasi film ini cukup panjang, berkisah tentang perjodohan. Meskipun tidak terlalu sukses, ini merupakan film pertama yang diproduksi etnis Tionghoa dan disutradarai oleh Len Raos, seorang warga negara Amerika.  

Resia Boroboedoer (1928)

Merupakan film petualangan tahun 1929 yang diproduseri oleh Nanjing Film Corp. Resia Boroboedoer berkisah tentang seorang gadis bernama Young Pei Fen (diperankan oleh aktris Cina Olive Young) pergi mencari abu Gautama Buddha di Candi Borobudur.

Film ini dikritik keras oleh Kwee Tek Hoay, karena gambarnya yang buram. Biaya produksinya juga sangat besar dan malah menjadi penyebab kebangkrutan studio film tersebut.

Setangan Berloemoer Darah (1928)

Film Indonesia selanjutnya yang diadaptasi dari novel karya Tjoe Hong Bok menjadi film pertama yang menyelipkan adegan laga.

Setangan Berloemoer Darah merupakan film bisu dengan gambar hitam putih, disutradarai oleh wartawan asal semarang Tan Boen Soan. Bercerita tentang pemuda yang berusaha membalaskan dendam atas kematian sang ayah.

Rampok Preanger (1929)

Film Rampok Preanger dibintangi oleh penyanyi keroncong Ining Resmini yang populer di Bandung, merupakan film kedua dari rumah produksi Lily Van Java, Nelson Wong yang sempat Pailit.

Kabarnya, ini merupakan film aksi laga yang diadaptasi dari salah satu film produksi Amerika.

Njai Dasima (1929)

Njai Dasima telah menjadi legenda Kota Jakarta, kisah hidupnya bukan sekedar cerita cinta picisan.

Awal mula cerita Njai Dasima mencuat kala novel pendek karya Gijsbert Francis 1896 mulai terkenal.

Filmnya sendiri berkisah tentang seorang wanita yang diperistri orang Inggris, terkenal cantik dan kaya.  Suatu hari ia jatuh hati pada seorang pria beristri, namun sayangnya ia malah disia-siakan setelah menjadi istri muda pria tersebut.

Si Tjonat (1929)

Tidak hanya merilis film aksi laga berjudul Rampok Preanger, di tahun yang sama Nelson Wong bersama dengan teman bisnisnya Jo Eng Sek juga membuat film Si Tjonat yang juga bergenre laga.

Si Tjonat menceritakan kisah seorang pemuda yang kabur ke Batavia setelah membunuh temannya.

Sesampainya di Batavia ia pun bekerja di rumah orang Belanda. Bukannya berterimakasih karena sudah dipekerjakan, Tjonat malah merayu istri dan merampok rumah tuannya.

Ia akhirnya kembali kabur dari rumah tersebut dan memutuskan menjadi seorang perampok.

Film ini cukup menarik perhatian masyarakat. Bahkan saat itu tersiar kabar bahwa film ini akan dibuat sekuel, hanya saja kenyataanya tak pernah diproduksi sampai sekarang.

Si Ronda (1930)

Film tentang jagoan Betawi yang tak jauh berbeda dengan kisah Si Pitung dan Si Jampang.

Yakni seorang rakyat biasa yang jago bela diri, berani melakukan apapun untuk membela kaum lemah.

Untuk genrenya termasuk action, disutradarai oleh Like Tek Swie dan dibuat pada tahun 1930.

Si Ronda dibintangi oleh Bachtiar Effendi, seorang aktor dan sutradara film Indonesia yang juga aktif sebagai komentator budaya. Meskipun kisahnya cukup seru, sayangnya masih kurang mendapat perhatian media saat itu.

Itulah tadi 9 daftar film pertama Indonesia yang menjadi cikal bakal lahirnya sejarah panjang dunia perfilman di tanah air. Adakah salah satu atau beberapa di antaranya yang sudah kamu tonton?

1637809467 LMqn9WyiH4rRRXbPuXboe1tYL1EqK5ei
Temukan artikel menarik lainnya di topik: sejarah sinema