365 Hari di Agensi Digital, 1 Hari Pamitan

Asyik nggak sih jadi anak agensi?


agensi

Ilustrasi agensi periklanan. (Foto: Canva)

Oleh: Mas Hadid
Diterbitkan:

the Monkey Times – Seringkali orang bertanya kepada saya “sekarang kamu kerja apa”. Dan setelah 365 hari di agensi digital, saya sering menjawab: “aku (pernah) kerja di agensi”.

Mendamparkan diri di agensi sebetulnya bukan angan-angan. Terlintas di benak saja kaya’nya nggak. Tapi toh nyatanya kemarin (25/07) saya mengundurkan diri setelah menghabiskan waktu selama setahun di kantor. Apa yang sebelumnya tak pernah jadi angan-angan ternyata malah jadi kenyataan.

Di kantor itu pula saya terpaksa belajar banyak hal tentang digital marketing, dunia yang sebelumnya sangat asing. Tapi betapapun asing sebuah dunia yang harus kita masuki, lama-lama kita toh bakal terbiasa juga.

Hanya saja sampai sekarang pun saya masih bertanya-tanya: memangnya digital marketing itu penting banget ya?

365 Hari di Agensi Digital: Content is King

Dua puluh tiga tahun lalu Bill Gates meramalkan masyarakat konten lewat eseinya yang berjudul Content is King. Dengan internet sebagai poros bisnis, brand berlomba-lomba menarik perhatian massa konsumen lewat berita, perangkat lunak, komunitas online, iklan baris, direktori, olahraga, pemrograman, dan hiburan.

Pendek kata, konten dianggap sebagai metode persuasif yang lebih murah dan lebih efisien sebagai media pemasaran, ketimbang media tradisional seperti televisi, iklan majalah, maupun billboard di tepi jalan.

Dalam kata-kata Bill Gates, internet adalah marketplace konten. Orang dengan mudah menerima informasi, menyeleksinya, mencari apa yang mereka mau, membeli benda-benda, membuang curhatan, menyuarakan ketidakadilan, mengkritik pelayanan transportasi, dan seterusnya.

Ramalan tahun 1996 itu kini jadi kenyataan, namun dengan wajah yang berbeda dibanding ketika Bill Gates menulisnya. Ketika Bill Gates menulis eseinya itu kita belum mengenal blog, apalagi Instagram. Youtube pun mungkin belum terpikirkan oleh Steve Chen, pendirinya.

Sekarang dunia internet sesak dengan konten. Situasi itulah yang bersinggungan langsung dengan pengalaman saya bekerja di agensi.

Tidak ada yang mudah dengan konten

Suatu kali agensi kami mendapat klien, sebuah brand marketplace yang memesan 600 artikel kepada kami tiap bulan untuk dimuat di sebuah situs review yang dikelola brand tersebut. Pernahkah kamu membayangkan 600 artikel diproduksi dalam sebulan, alias sekitar 20 artikel per hari? Berapa banyak konten yang sanggup kamu tulis dalam sehari?

Saya tidak pernah menuliskan satupun konten untuk marketplace itu. Tugas saya sekadar melakukan quality control dan seleksi atas konten yang masuk dari blogger maupun penulis dari luar yang bersedia dipekerjakan dengan bayaran lumayan – walau jauh dari kata pantas.

Baca Juga:  Kisahku Dengan Buku bukan Karena Cinta dari Sananya

Saya kemudian melihat ide Bill Gates jadi kenyataan. Di bidang digital marketing, konten tertulis jadi bentuk paling purba yang dulu dianggap sebagai senjata utama pemasaran.

Jadi kalau ada sebuah brand yang membangun blog perusahaan, bisa dipastikan dia sedang melakukan digital marketing dalam bentuknya yang paling purba. Berhari-hari kami berpikir keras, sekaligus menentukan teknik supaya konten yang diproduksi itu menarik dibaca dan ringan. Target market-nya jelas, anak muda umur 20-an tahun.

Tentu saja ukuran “menarik” jadi sangat rancu. Namun dalam semesta digital marketing zaman kiwari, ukuran “menarik” acuannya jelas: jumlah pembaca konten. Dengan kata lain, yang jadi patokan adalah jumlah “views”.

Saya tidak tahu apakah konten yang kami produksi untuk marketplace itu sudah memenuhi kaidah yang berlaku di dunia digital marketing. Apakah mereka menarik ketika dibaca? Atau apakah karena saking tak menariknya, bahkan judulnya pun tak dilirik?

Saya mempertanyakan kepada diri sendiri dua hal diatas, sebab urusan menarik konsumen/pembaca supaya melirik konten kita jadi sebuah tuntutan yang lumayan membuat pusing kepala. Jadi tak ada yang mudah ketika kita berbicara tentang konten, meski selalu ada saja metode yang bisa kita pakai untuk mengusahakan supaya konten itu jadi menarik.

Dan … ada media sosial, kemudian influencer

Saya sudah menulis di atas, zaman telah bergeser sejauh dua puluh tiga tahun sejak Bill Gates menulis content is king. Orang kini tidak mencari konten tertulis saja, tapi juga bentuk-bentuk yang lain: foto, grafis dan video. Ketiganya dianggap punya nilai lebih: gampang dicerna, dan semua orang punya smartphone.

Lalu trend konten pun ikut bergeser. Ketika orang mulai mencari informasi lewat Instagram dan Youtube, brand berlomba-lomba memburu mereka yang dikenal sebagai influencer. Kadang mereka dibayar untuk membuat video/foto yang menonojolkan keunggulan produk sebuah brand, lalu mempromosikannya ke sejumlah followers/subscribers.

Di jaman kiwari, teknik digital marketing yang memanfaatkan influencer sedang naik daun. Setidaknya di agensi tempat saya bekerja dulu, tiap hari selalu saja ada perwakilan brand memesan daftar nama-nama influencer yang dianggap punya potensi mempopulerkan produk.

Potensi yang saya maksud bisa diukur dari beberapa hal: jumlah followers/subscribers dan engagement rate. Semakin besar semua potensi tersebut, semakin menarik si influencer di mata brand.

Dalam semesta media sosial, ukurannya bukan lagi kuantitas pemirsa yang menikmati konten, tapi engagement. Artinya: konten pesanan sebuah brand yang diproduksi influencer baru bisa dianggap menarik ketika memancing banyak likes dan komentar.

Baca Juga:  30 Hari Berlatih Menahan Diri dengan Puasa

Selama 365 hari itu saya berhadapan dan terlibat dengan segala tetek bengek metrik. Terkadang manipulatif, penuh tipu muslihat dan bujuk rayu, tapi yang pasti memang akrab dengan angka-angka.

Hampir setengah empat sore

Sore itu (25/07) atasan saya di kantor. Umurnya lebih muda dari saya. Saya bertanya apakah dia masih optimis dengan yang kami lakukan di kantor ini? Dia menjawab masih, walau kadar optimismenya tampak menurun dari bulan ke bulan.

“Gue masih tetep pengen bangun portal. Gue bisa isi banyak hal semau-maunya. Mau itu portal nanti mati suri, gue masih tetep ada. Kalo bisnis influencer kan … ya … lo tau sendiri, kapan aja bisa mati,” katanya dengan nada setengah masygul.

Setelah 365 hari di agensi digital marketing, saya sedikit menengok ke belakang, untuk kemudian sadar bahwa impian industrial bukanlah sesuatu yang sederhana. Selalu ada konsekuensi yang membayangi di belakangnya.

Selama 365 hari di agensi digital, saya sadar klien bisa lari kapan saja. Karena kebanyakan dari mereka tak pernah setia. Pun di saat bersamaan saya sadar, dunia konten bagi saya sungguh menarik. Tak ada jaminan bahwa apa yang kamu produksi hari ini bakal kekal diingat sampai anak cucumu nanti.

Baca Juga:

Temukan artikel menarik lainnya di topik: opini

KOMENTAR

Demi etika berkomentar yang baik, segala macam komentar bernada kebencian, rasisme dan serangan terhadap keyakinan orang lain, akan dihapus. Kamu bisa menyimak bagaimana data komentar pembaca diproses, dengan mengeklik tautan berikut ini.

artikel Terkait

Artikel Terbaru